Euforia Literasi di Desa Ubud
Euforia Literasi di Desa Ubud
Euforia Literasi di Desa Ubud,

Ubud kembali semarak oleh satu festival sastra tahunan, Ubud Writers and Readers Festival, 1-5 Oktober 2014. Acara tahunan yang mengetengahkan diskusi dan apresiasi sastra serta kesenian secara luas ini mempertemukan berbagai penulis dari seluruh dunia, berpusat di kawasan-kawasan kultural Ubud seperti museum, galeri serta ruang-ruang kebudayaan lainnya.

Meskipun sang pemenang Nobel VS Naipaul menyampaikan kabar ketidakhadirannya pada saat-saat menjelang festival digelar, suasana literasi di Ubud masihlah terasa. Hampir 150 penulis, baik puisi, cerpen maupun novel, secara antusias berbagi dalam sesi sesi panel yang mengetengahkan beragam topik seputar kesusastraan serta masalah kontekstual di negara-negara dunia.

Bustar Maitar, yang bergiat panjangdi Greenpeace Indonesia misalnya, pada paparan narasumber kunci sewaktu pembukaan festival, mengungkapkan betapa isu lingkunganera kinisejatinya tidak terlepas dari jalan sejarah, kepentingan politik dalam negeri, serta juga persoalan globalitas skala luas. Kesusastraan dan kesenian, tambahnya, berpotensi memberi cara pandang baru bagi masyarakat dalam mencermati sekaligus menyikapi problematik ekologis yang tengah mengemuka.

Kesadaran akan peran penting kesusastraan juga akan dibahas oleh budayawan asal Perancis, Jean Couteau, pada satu sesi diskusi 'Lempad, The Man, The Legend' (3/10) mendatang. Jean Couteau yang baru saja menulis buku besar perihal sosok dan karya Lempad ini dijadwalkan mempresentasikan pikiran-pikiran bernasnya mengenai pentingnya mengapresiasi kesenian sebagai bagian dari upaya mendokumentasikan kebudayaan.

Lempad, tambahnya, bukan hanya seorang maestro seni rupa Bali, namun juga sosoklocal geniusyang merepresentasikan sosial dan kultural Bali secara otentik. Gambar yang dikaryakannya mencerminkan keunggulannya sebagai penciptadrawingsekaligus seniman yang melaku-hidup dalam kebudayaan setempat, satu refleksi bahwa seni sesungguhnya bertumbuh dan bertaut dengan lingkungan sekitarnya. Lain dari itu, tema-tema visual yang dikreasikan Lempad menggambarkan nilai keuniversalan, semisal melawan konsep seni tradisi yang lazim berkembang pada masanya (sekitar 1890 hingga 1920an) hingga memaknai ulang filosofi tradisi Bali kala itu.

Selain panel diskusi, festival juga dimeriahkan dengan pertunjukan musik, pameran seni rupa, serta lokakarya yang digelar hampir serentak selama 5 hari penyelenggaraan acara. Narasumber lain yang berpartisipasi membagikan gagasan-gagasannya antara lain Goenawan Mohammad, Azyumardi Azra, Hassan Blasim (peraih Independent Foreign Fiction Prize), Eimar McBride (pemenang Baileys Women's Prize), dan lain sebagainya.


Tekan ikon dibawah ini untuk memberikan reaksi pada postingan ini
Komentar
Pilihan terbaik untuk dibaca

© 2016 | Fourlook.com
Fourlook Intranet by Kwikku Media Nusantara